Digelar, Sibuk Liburan Ikut Pameran di Tempo Media Week

Tempo Media Week digelar pada 7 Desmber 2019. Dalam kesempatan tersebut The Enterpreneur Society (IG: entrepreneursociety.co) — komunitas pengusaa muda, turut hadir. Sibuk Liburan sendiri sebagai bagian dari komunitas tersebut pun turut meramaikan acara tersebut, yaitu dengan menyebarkan flyer. TES pun mengisi acara mulai dari pukul 10.30 hingga 11.30 WIB.

Tempo Media Week

Untuk diketahui, Tempo Media Week merupakan ajakan bagi masyarakat digital untuk menjadi lebih baik melalui rangkaian acara festival menulis, diskusi, workshop bersama dengan Tempo Media Group.  Acara yang diselenggarakan Tempo Institute ini, digelar di Perpustakaan Nasional, di Jalan Medan Merdeka Selatan No 11, Gambir, Jakarta Pusat.

Sejumlah acara dan kegiatan pun digelar dalam Tempo Media Week, diantaranya seminar dan diskusi, masterclass, community festival dan local culinary festival. Pembicara-pembicara kompeten dan berpengaruh pun diundang untuk menyemarakan festival tersebut.

Dalam seminar Media Landscape and Disruotion yang mengusung tajuk ‘The Future of Media’ misalnya, menghadirkan Wahyu Dhyatmika (Pemimpin Redaksi TEMPO), A. Sapto Anggoro (Pemimpin Redaksi Tirto.id), Citra Dyah Prastuti (Pemimpin Redaksi KBR Jakarta) dan Nezar Patria (Pemimpin Redaksi Jakarta Post).

Selain seminar yang dimoderatori  Direktur Tempo Institute, Qaris Tajudin itu, turut pula digelar seminar Indonesia 2045, Meet Young Scientist. Seminar yang disponsori oleh knowledge SectorInitiative ini, menghadirkan 5 ilmuwan terbaik dari Indonesia, yaitu Bambang Brodjonegoro – Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Nadiem Makarim – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Tri handoko – Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sementara itu, dalam acara Bincang Binis yang diikuti TES, yang diisi oleh beberapa orang berpengaruh, seperti Yusak Setiawan-pemilik nasi kotak-kotak, Agus Mariono-pemilik Marjone clothing dan Jordan Susantio-direktur dan COO hellogram, diperoleh beberapa kesimpulan menarik.

Dari penyampaian ketiga pembicara diperoleh kesimpulan bahwa dalam membangun bisnis tidak bisa instan. Yusak misalnya membangun nasi kotak-kotak dari nol bersama istrinya.

Demikian pula dengan Agus yang lebih dahulu menimba ilmbu bisnis dari orang tuanya yang lebih dulu berbinis konveksi di Tanah Abang. Terkadang bisnis juga dimulai dari kepepet, seperti dialami Jordan yang sudah memulai berdagang sejak masih SMA karena harus membiatai kebutuhan sekolah sendiri.

Apabila sudah terjun di dunia usaha dan ingin mencapai sukses dalam binis dibutuhkan ‘mental baja’, tidak tacut rugi atau bahkan bangkrut. Kebangkitan dan motivasi menjadi obat penting untuk kembali meraih mimpi menjadi pengusaha yang sukses.

Untuk ‘kembali berdiri’ memang tidak mudah, selain dari diri sendiri juga butuh dukungan dari luar. Dukungan itu bisa mengalir dari komunitas. Dengan bergabung di komunitas, para pengusaha akan memiliki ruang untuk berbagai pengalaman, sehingga dapat saling belajar dari pengalaman pengusaha lain. (www.sibukliburan.id)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *